• Bahaya Onani Bagi Kesehatan

    Onani atau masturbasi adalah sebuah cara mendapatkan kepuasan seks tanpa berhubungan kelamin secara langsung. Aktivitas ini dilakukan dengan merangsang alat kelamin sendiri. Apakah manfaat onani dan bahaya onani yang harus diketahui pria?

    Adakah Efek Onani bagi Kesehatan?

    Salah satu mitos yang beredar di masyarakat mengenai dampak onani adalah mengakitbatkan munculnya jerawat, kebutaan hingga terganggunya masalah kejiwaan. Biasanya onani dilakukan dengan cara menyentuh, menggosok, atau memijat penis.

    Pada pria, aktivitas ini diakhiri dengan keluarnya cairan dari kemaluan yang disebut dengan semen atau air mani sebagai cairan yang membawa sel-sel sperma. Hal yang sama juga dapat terjadi pada wanita tetapi frekuensinya sangat jarang jika dibandingkan dengan pria.

    Beberapa orang percaya bahwa manfaat onani bisa meningkatkan kualitas tidur, memperbaiki fungsi kekebalan tubuh, meredam stres hingga meningkatkan produksi endorfin. Akan tetapi, dibalik manfaat onani yang bisa didapatkan, ada juga dampak negatif onani yang bisa terjadi, di antaranya:

    Ejakulasi dini

    Terlalu sering melakukan onani dapat menyebabkan terjadinya ejakulasi dini. Bagi pria yang melakukan onani beberapa kali sebelum melakukan hubungan seks, akan cenderung sulit mencapai klimaks.

    Masalah lain yang muncul adalah berkurangnya sensitivitas terhadap sentuhan dari orang lain, dan justru menjadi lebih akrab dengan sentuhan dari diri sendiri. Frekuensi yang terlalu sering dalam melakukan onani adalah memicu timbulnya kulit lecet sampai pembengkakan organ intim karena tidak pernah menggunakan pelumas.

    Iritasi kulit hingga fraktur penis

    Onani bisa dibilang sebagai aktivitas seksual paling aman. Hal ini dikarenakan risiko untuk terkena penyakit menular seksual tidak akan terjadi selama Anda melakukannya sendiri.

    Meski begitu, cedera bisa muncul dalam bentuk iritasi kulit jika Anda melakukan onani terlalu sering dan kasar. Risiko yang lebih berbahaya, akibat onani dapat menyebabkan terjadinya fraktur penis yang disebabkan oleh adanya paksaan membengkokkan penis saat ereksi. Kondisi ini akan menyebabkan penis mengalami pembengkakan.

    Rasa bersalah

    Bahaya onani lainnya adalah membawa efek negatif secara psikologis, lantaran terbentur dengan nilai-nilai agama, moral, dan budaya, sehingga menjadikan seseorang merasa malu dan bersalah setelah selesai melakukan kegiatan tersebut.

    Tarik menarik antara kesenangan serta menahan diri berdampak pada nilai harga diri, tingkat kepercayaan diri, serta perasaan cinta. Perasaan bersalah yang ditimbulkannya juga memicu efek psikosomatis seperti sakit punggung, sakit kronis, dan sakit kepala.

    Memengaruhi unsur-unsur kimia tubuh

    Bahaya onani selanjutnya adalah bisa memengaruhi otak berikut unsur-unsur kimia tubuh. Hal ini diakibatkan oleh kelebihan produksi neurotransmitter dan hormon seks. Kendati dampak yang timbul pada setiap orang berlainan, terlalu sering melakukan onani tetap dapat memicu munculnya gangguan kesehatan mulai dari kelelahan, testis sakit, rambut rontok, ataupun nyeri panggul.

    Apabila gaya hidup cenderung normal, akan tetapi mempunyai kebiasaan onani sebaiknya kurangi aktivitas seksual tersebut untuk mengurangi keluhan. Apabila keluhan tak kunjung reda, segera lakukan pemeriksaan medis.

    Masturbasi kompulsif

    Masturbasi kompulsif berpengaruh terhadap kehidupan karena telah menjadi suatu kebiasaan. Sebagian pria yang melakukan onani sebanyak 6 kali dalam sehari—bisa saja justru merasa produktif, namun lain halnya dengan para pria lain yang justru merasa sebaliknya.

    Apabila tidak mampu menyeimbangkan antara hasrat dan kebutuhan pribadi, masturbasi kompulsif dapat membawa dampak negatif pada pekerjaan, harga diri, hubungan dengan pasangan, keuangan, hingga hubungan sosial.

    Memicu terjadinya prostat

    Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pria muda yang sering melakukan onani memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker prostat. Namun sebaliknya, pada pria lebih tua, aktivitas onani justru dapat menurunkan risiko terkena kanker prostat. Walau demikian, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal ini.

    Pin It