• Diagnosis dan Cara Mengobati Diabetes Melitus

    Penyakit diabetes adalah penyakit yang seringkali bisa dideteksi dengan melakukan tes urine, untuk mengetahui apakah ada kelebihan glukosa. Ini biasanya didukung oleh tes darah, yang mengukur kadar glukosa dalam darah dan dapat memastikan apakah penyebab gejala Anda adalah diabetes.

    Jika khawatir bahwa Anda mungkin memiliki beberapa gejala di atas, Anda disarankan untuk berbicara dengan dokter atau ahli kesehatan yang berkualitas.

    Cara Mengobati Diabetes Melitus

    Pengobatan diabetes dapat dilakukan berdasarkan jenis DM yang Anda derita. Berikut ini penjelasannya.

    1. Diabetes Melitus Tipe 1

    Diabetes melitus tipe 1 juga disebut diabetes insulin-dependent. Dulu disebut juga dengan diabetes onset-anak, karena sering dimulai pada masa kanak-kanak. Namun seiring berjalannya waktu, banyak penelitian menunjukkan bahwa tipe ini bisa muncul juga pada orang dewasa.

    Diabetes melitus tipe 1 adalah kondisi autoimun. Ini disebabkan pankreas diserang dengan antibodi tubuh pasien sendiri. Pada penderita tipe ini, pankreas yang rusak tidak membuat insulin. Diabetes tipe ini dapat disebabkan oleh kecenderungan genetik.

    Risiko medis yang berhubungan dengan diabetes tipe 1
    Banyak dari mereka berasal dari kerusakan pembuluh darah kecil di mata Anda (disebut retinopati diabetik), saraf (neuropati diabetes), dan ginjal (nefropati diabetik). Bahkan risiko yang lebih serius adalah meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke.

    Pengobatan untuk diabetes melitus tipe 1 ini adalah dengan pemberian insulin, dengan cara disuntikkan melalui kulit ke dalam jaringan lemak (biasasnya di jaringan lemak perut).

    2. Diabetes Melitus Tipe 2

    Sejauh ini, bentuk paling banyak dari penyakit diabetes adalah diabetes melitus tipe 2. 95 persen kasus ditemukan pada orang dewasa. Tipe 2 ini dulu disebut dengan diabetes onset dewasa, tapi dengan epidemi banyaknya kasus obesitas pada anak-anak, banyak remaja baru yang juga mengalami tipe ini. Diabetes tipe 2 juga disebut non-insulin dependent diabetes.

    Penyakit diabetes melitus tipe 2 biasanya lebih ringan daripada tipe 1 karena pankreas sebenarnya mampu menghasilkan insulin, namun karena gaya hidup dan makanan yang tidak terjaga, pankreas mengalami “kelelahan”. Pankreas mampu menghasilkan sejumlah insulin. Tapi jumlah yang dihasilkan tidak cukup untuk kebutuhan tubuh atau sel-sel tubuh lainnya menjadi “kebal” terhadap insulin sehingga menjadi sel resisten insulin. Resistensi insulin, atau kurangnya sensitivitas terhadap insulin, kebanyakan terjadi pada sel lemak, hati, dan sel-sel otot.

    Sama seperti tipe 1, tipe 2 mampu menyebabkan komplikasi kesehatan, terutama di pembuluh darah terkecil dalam tubuh seperti ginjal, saraf, dan mata. Diabetes tipe 2 juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

    Orang yang mengalami obesitas, dengan berat badan lebih dari 20 persen dari berat badan ideal, beresiko sangat tinggi untuk terkena tipe ini. Orang gemuk cenderung memiliki resistensi insulin. Dengan resistensi insulin, pankreas harus bekerja terlalu keras untuk menghasilkan lebih banyak insulin. Tapi meskipun begitu, tidak ada cukup insulin untuk menjaga gula normal.

    Tidak ada obat untuk penyakit ini. Pada awalnya, diabetes tipe 2 dapat dikendalikan dengan manajemen berat badan, nutrisi, dan olahraga. Biasanya, tipe ini berkembang lebih pesat pada akhirnya, sehingga obat antidiabetes sering dibutuhkan.

    Tes A1C adalah tes darah yang memperkirakan kadar glukosa rata dalam darah Anda selama tiga bulan sebelumnya. Pengujian A1C periodik mungkin disarankan untuk melihat seberapa baik diet, olahraga, dan obat-obatan bekerja untuk mengontrol gula darah dan hasilnya dilihat untuk mencegah kerusakan organ. Tes A1C biasanya dilakukan beberapa kali dalam setahun.

    Hubungi dokter jika merasakan hal ini:

    • Merasa sakit perut yang sangat hebat, lemah, dan sangat haus
    • Sering kencing dan banyak
    • Bernapas lebih dalam dan lebih cepat dari biasanya (napas Kusmaull, salah
    • satu penanda kegawatan pada diabetes)
    • Memiliki napas yang berbau manis seperti cat kuku. (Ini adalah tanda dari kadar keton yang sangat tinggi).

    Penyakit Diabetes Insipidus

    Di samping itu, Anda barangkali pernah mendengar tentang penyakit diabetes insipidus. Penyakit diabetes insipidus bukan merupakan kondisi gangguan kesehatan yang permanen seperti halnya penyakit diabetes melitus.

    Penderita penyakit diabetes insipidus mendapatkan penyakit ini karena terjadi gangguan hormon antidiuretik. Hormon antidiuretik berfungsi untuk mengatur jumlah cairan pada tubuh seseorang. Jika terjadi gangguan hormon antidiuretik, maka seseorang akan kencing terlalu sering. Penderita penyakit diabetes insipidus juga akan terus merasa kehausan. Akibatnya, ia akan minum terlalu sering dan kemudian mengeluarkan urin atau kencing yang sangat banyak dalam sehari.

    Pin It