• Penyebab dan Komplikasi Klamidia

    Apa penyebab klamidia (chlamydia)

    Klamidia disebabkan oleh bakteri yang disebut Chlamydia trachomatis. Infeksi ini dapat menyebar dengan mudah melalui seks vagina, oral, dan anal.

    Seorang wanita tetap bisa terkena penyakit ini meski pasangannya tidak ejakulasi saat seks. Pasalnya, tak hanya lewat air mani, bakteri juga terdapat dalam cairan praejakulasi.

    Selain itu, jika sudah pernah memiliki infeksi ini, risiko untuk terkena kembali sangat mungkin. Hal ini biasanya terjadi ketika Anda melakukan seks tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi.

    Dikarenakan penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala, orang yang telah terinfeksi bisa dengan mudah menularkan ke pasangannya tanpa disadari.

    Jika Anda adalah seorang ibu hamil yang mengidap klamidia, Anda juga dapat menyebarkan infeksi ini ke bayi saat melahirkan. Penyakit ini nantinya bisa menyebabkan pneumonia atau infeksi mata serius pada buah hati Anda.

    Oleh karena itu, jika seorang ibu memiliki klamidia selama kehamilan, diperlukan tes 3 hingga 4 minggu setelah perawatan untuk memastikan kondisinya.

    Namun penting untuk diingat bahwa penyakit kelamin ini tidak dapat ditularkan melalui:

    • Dudukan toilet yang telah digunakan oleh orang yang terinfeksi
    • Berbagi sauna dengan orang yang terinfeksi
    • Berbagi kolam renang yang sama dengan orang yang terinfeksi
    • Berbagi makanan dan minuman yang sama
    • Ciuman, pelukan, dan pegangan tangan
    • Permukaan yang sebelumnya disentuh oleh orang yang terinfeksi
    • Berdiri di dekat orang yang terinfeksi dan menghirup udara setelah mereka batuk atau bersin

    Faktor-faktor risiko

    Apa yang meningkatkan risiko saya untuk klamidia (chlamydia)?

    Anda berisiko tinggi terkena klamidia jika:

    • Aktif secara seksual sebelum berusia 25 ahun
    • Sering berganti-ganti pasangan seks
    • Tidak menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks dengan pasangan yang berbeda
    • Memiliki riwayat penyakit kelamin

    Untuk mengurangi risiko, sebaiknya praktikkan seks yang aman dan lakukan tes secara rutin.

    Komplikasi

    Apa saja komplikasi akibat klamidia (chlamydia)?

    Selain menyebabkan infertilitas, klamidia juga dapat menyebabkan beberapa komplikasi penyakit, seperti:

    Radang panggul

    Radang panggul atau pelvic inflammatory disease terjadi ketika bakteri menyebar dan meninginfeksi serviks, rahim, saluran tuba, dan ovarium. Radang panggul bisa membuat seseorang menjadi tidak subur, mengalami nyeri panggul kronis, dan hamil anggur.

    Epididimitis

    Epididimitis adalah kondisi saat saluran belakang testis yang membawa sperma menuju uretra meradang. Peradangan ini muncul akibat infeksi bakteri chlamydia yang akhirnya menyebabkan demam, pembengkakan, dan nyeri pada skrotum.

    Prostatitis

    Prostatitis atau infeksi kelenjar prostat adalah kondisi saat bakteri klamidia mulai masuk dan menyerang prostat. Hal ini mengakibatkan seseorang akan merasa nyeri saat berhubungan seks, demam, meriang, sakit saat kencing, dan nyeri punggung bawah.

    Infeksi menular seksual lainnya

    Orang yang sudah terkena chlamydia biasanya berisiko lebih tinggi terkena infeksi menular seks lainnya seperti gonore, sipilis, hingga HIV. Oleh karena itu, segera periksakan ke dokter jika Anda memang berisiko tinggi dan mengalami berbagai gejala tak biasa beberapa waktu belakangan.

    Infertilitas

    Chlamydia bisa menyebabkan jaringan parut dan sumbatan pada tuba falopi. Kondisi ini membuat seorang wanita bisa mengalami kesulitan untuk memiliki anak. Oleh katena itu, pengobatan dini sangat diperlukan untuk mencegah hal ini terjadi.

    Arthritis reaktif

    Arthritis reaktif adalah kondisi saat sendi terasa nyeri dan bengkak akibat infeksi di bagian lain pada tubuh. Penyakit yang dikenal dengan istilah sindrom Reiter ini juga menyerang mata dan uretra, yaitu tabung yang membawa urine dari kandung kemih ke luar tubuh Anda.

    Obat & Pengobatan

    Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

    Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk klamidia (chlamydia)?

    Anda harus melakukan tes tahunan jika berusia di bawah 25 tahun dan aktif secara seksual. Namun, jika usia Anda di atas 25 tahun, lakukan tes yang sama jika memiliki lebih dari satu pasangan seks dan faktor risiko lainnya.

    Berikut berbagai skrining dan tes yang dilakukan untuk mendiagnosis klamidia, yaitu:

    Tes urine

    Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel urine Anda untuk kemudian dianalisis di laboratorium. Jika Anda positif memiliki penyakit kelamin yang satu ini, tes akan menunjukkan hasil yang positif.

    Tes swab

    Tes swab biasanya dilakukan pada pria dan wanita untuk mendeteksi penyakit kelamin. Pada wanita tes ini dilakukan dengan mengambil sampel cairan dari serviks untuk dilihat keberadaan bakteri di dalamnya.

    Sementara pada pria, dokter biasanya akan mengambil sampel cairan dari ujung penis. Cairan ini bisa diteliti karena berasal dari uretra, tempat di mana bakteri klamidia biasanya menginfeksi. Selain itu, dalam beberapa kasus dokter akan mengambil sampel cairan dari anus.

    Jika Anda pernah diobati karena infeksi klamidia awal, Anda harus diuji ulang dalam waktu sekitar tiga bulan setelahnya.

    Bagaimana cara mengobati klamidia (chlamydia)?

    Klamidia dapat diobati dengan antibiotik. Dokter akan menyesuaikan dosis obat dengan keparahan kondisi. Biasanya antibiotik yang diberikan berbentuk pil. Dosis yang diberikan bisa satu kali setiap hari atau beberapa kali sehari dalam 5 hingga 10 hari.

    Doxycycline menjadi antibiotik yang biasanya diresepkan dokter pada pasien. Pastikan untuk menghabiskan antibiotik sesuai anjuran dokter. Hal ini dilakukan untuk mencegah Anda terkena infeksi kembali dan bakteri resisten terhadap antibiotik.

    Selain doxycycline, dokter biasanya memiliki beberapa alternatif antibiotik terutama untuk wanita hamil. Ini karena doxycycline atau tetracycline bisa menyebabkan masalah perkembangan tulang dan gigi bayi. Azithromycin termasuk salah satu obat yang terbukti aman dan efektif untuk wanita hamil.

    Berikut ini beberapa antibiotik alternatif yang juga direkomendasikan oleh Centers Disease for Control and Prevention untuk mengobati klamidia, yaitu:

    • Erythromycin
    • Levofloxacin
    • Ofloxacin

    Sebagian orang biasanya akan mengalami berbagai efek samping ringan setelah minum antibiotik, seperti:

    • Diare
    • Sakit perut
    • Masalah pencernaan
    • Mual

    Selain itu, orang yang minum doxycycline biasanya akan mengalami ruam kulit saat terpapar sinar matahari.

    Dalam kebanyakan kasus, infeksi biasanya akan sembuh dalam waktu satu sampai dua minggu. Selama waktu pengobatan itu, Anda bisa tidak diperbolehkan berhubungan seks untuk mencegah penyebarannya.

    Dokter juga akan menyarankan pasangan Anda untuk mendapatkan pengobatan yang sama meski tidak memiliki gejala. Jika tidak, infeksi bisa bolak balik muncul antara Anda dan pasangan.

    Namun, meski klamidia telah diobati, tubuh tidak kebal terhadap bakteri ini. Artinya setelah sembuh Anda masih bisa terinfeksi lagi di masa mendatang jika terus melakukan hal berisiko.

    Pin It