• Tanda dan Gejala DBD yang Perlu Anda Waspadai

    Memasuki musim hujan, bukan hanya flu atau pilek yang umum terjadi. Penyakit lain yang cukup serius, seperti demam berdarah juga mulai mewabah. Anda mungkin melihat banyak beritanya di siaran televisi, tentang banyaknya pasien DBD yang memenuhi rumah sakit. Selain itu, pemerintah juga gencar mengimbau masyarakat untuk mencegah penularannya dan mengamati gejala demam berdarah lebih dini.

    Penyakit demam berdarah dan penularannya

    Demam berdarah atau dikenal dengan DBD adalah penyakit menular akibat gigitan nyamuk yang membawa virus dengue. Ada dua jenis nyamuk yang menjadi kurir penyebaran virus dengue, yaitu Aedes aegypty dan Aedes albocpictus. Namun, jenis nyamuk yang paling sering menyebarkan penyakit ini di Indonesia adalah nyamuk betina jenis Aedes aegypty.

    Meski disebut penyakit menular, penyakit DBD tidak ditularkan dari orang ke orang, seperti flu atau pilek. Virus dengue membutuhkan perantara, yaitu nyamuk untuk mematangkan virus. Kemudian, ketika nyamuk pembawa virus ini menggigit kulit manusia, virus akan berpindah dari lewat gigitan tersebut.

    Orang yang sudah terinfeksi virus dengue dapat menularkan infeksi selama 4 hingga 5 hari setelah gejala DBD pertama muncul. Bahkan, bisa terus menyebarkan infeksi virus hingga 12 hari.

    Cara penyebaran virusnya, yakni orang yang terinfeksi digigit nyamuk. Kemudian, virus berpindah ke tubuh nyamuk dan berinkubasi selama 4 hingga 10 hari. Selanjutnya, jika nyamuk tersebut menggigit orang yang sehat, maka virus akan berpindah dan menyebabkan infeksi.

    Gejala demam dengue pada fase kritis

    1. Ruam merah pada kulit

    Salah satu gejala khas dari demam berdarah selain demam tinggi mendadak, yakni munculnya ruam pada kulit. Munculnya ruam menandakan bahwa pasien telah memasuki fase kritis. Pada tahap ini, lebih baik jika pasien segera mendapatkan perawatan medis.

    Ruam demam berdarah biasanya muncul pada area wajah, kemudian menyebar hingga ke bagian leher, dan dada. Namun, bisa juga muncul di area telapak tangan, bawah kaki, dan bagian tubuh lainnya.

    Jika diperhatikan dengan jelas, ruam DBD terlihat seperti gigitan nyamuk. Bintik merah tersebut tidak berair maupun menonjol, seperti cacar air dan akan berkurang pada hari ke-4 dan ke-5 hingga akhirnya hilang pada hari ke-6.

    2. Perdarahan dan plasma leaked

    Saat virus dengue masuk ke tubuh, secara otomatis sistem imun akan menghancurkan virus tersebut. Sayangnya, sistem imun tidak mampu melawan virus dengue. Hal ini menyebabkan sistem imun mengaktifkan sel endotel—lapisan tunggal yang membungkus pembuluh darah.

    Awalnya, celah sel endotel berukuran sangat kecil. Namun, karena sistem imun secara terus-menerus diaktif, celahnya akan semakin membesar. Akibatnya, plasma darah, glukosa, dan nutrisi lainnya keluar dari celah tersebut. Kondisi ini disebut juga dengan plasma leakage atau kebocoran plasma.

    Kebocoran plasma ini bisa menyebabkan aliran darah jadi lebih lambat. Sel-sel dalam tubuh pun tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen yang cukup. Jika tidak diobati, kondisinya akan semakin parah. Mulai dari pembesaran hati, kegagalan sistem peredaran darah, perdarahan hebat, syok, hingga kematian bisa terjadi.

    Beberapa tanda dan gejala DBD pada fase kritis yang sangat butuh pertolongan perawatan dokter, antara lain:

    • Nyeri hebat pada perut
    • Muntah secara terus-menerus
    • Pendarahan dari hidung atau gusi
    • Muntah darah
    • Feses berwarna hitam
    • Kulit pucat dan terasa dingin ketika disentuh
    • Mengalami kesulitan bernapas
    • Trombosit menurun
    Pin It